Pembenihan Abalone Haliotis squamata di BBL Lombok

  1. I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Abalon (Haliotis spp.) atau disebut juga ”Awabi” (bahasa Jepang), ”Mutton Fish” atau ”Sea Ear” saat ini telah mulai dibudidayakan di Indonesia. Abalon merupakan hewan bersifat low trophic level (larvanya memakan benthik diatom/mikroalga dan dewasanya memakan rumput laut/makroalga). Sehingga, dari sisi ekonomis biaya produksinya relatif murah. Hal inilah yang menarik dari komoditas abalon. Produksi benih yang kontinyu dan mantap memberi keyakinan bahwa budidaya abalon dapat dikembangkan di masa yang akan datang.

Selama ini pasokan pasar diperoleh dari hasil penangkapan di alam. Penangkapan seringkali dilakukan secara tidak selektif sehingga mengancam kelestarian sumberdaya abalon tersebut. Untuk itu perlu dilakukan produksi benih abalon dalam suatu sistem budidaya secara terkontrol.

Pengembangan abalon menjadi suatu industri akuakultur di Indonesia, bukan hanya untuk melakukan diversifikasi produk perikanan dalam budidaya tetapi terutama sekali disebabkan oleh adanya pasar bagi produk tersebut sejak dahulu dan permintaan pasar yang terus meningkat, sementara produk semakin terbatas karena sebagian besar hanya diperoleh dari penangkapan di alam. Oleh karena itu, budidaya abalon merupakan suatu langkah yang tepat dalam memenuhi permintaan pasar tersebut.

Budidaya di laut adalah suatu cara yang sangat potensial dilakukan untuk pembenihan abalon. Banyak perusahaan dan balai budidaya pemerintah yang bergerak dalam usaha pembenihan abalon diantaranya yaitu Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat. Balai budidaya ini merupakan salah satu unit usaha abalon yang telah mampu menerapkan teknologi pembenihan secara intensif dan telah mampu menerapkan teknologi pembenihan secara modern. Berkaitan dengan nilai ekonomis abalon yang tinggi dan kemampuan Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat dalam penerapan teknologi, maka penulis memilih kegiatan pembenihan abalon yang berlokasi di Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan praktek lapang ini adalah untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan meningkatkan keterampilan mahasiswa di bidang budidaya perairan dengan mengikuti semua kegiatan praktek pembenihan seara langsung.

Adapun tujuan khusus dari pelaksanaan praktek lapang ini adalah :

  1. Mengetahui keadaan umum Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat.
  2. Mengetahui teknik pembenihan abalon yang dilakukan oleh Balai Budidaya Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat.
  3. Mengetahui aspek-aspek yang terkait dengan usaha pembenihan melalui keikutsertaan dalam semua kegiatan praktek pembenihan secara langsung yang diterapkan pada unit hatchery abalon.
  4. Memperoleh pengalaman kerja dalam pembudidayaan komoditas perairan khususnya pembenihan abalon, dan
  5. Mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi perusahaan dan mencoba menemukan pemecahannya.

1.3 Metode Pelaksanaan

Kegiatan lapang ini meliputi pengumpulan data primer dan data sekunder yang dilaksanakan melalui :

1)      Mengikusi secara langsung seluruh kegiatan di lokasi dengan membantu kegiatan budidaya guna meningkatkan keterampilan budidaya secara aplikatif

2)      Observasi (pengamatan) terhadap kegiatan budidaya abalon

3)      Melakukan wawancara ddengan pimpinan, teknisi, staf pegawai, serta pihak-pihak lain yang berkompetan di bidangnya.

4)      Studi pustaka yakni dengan mencari keterangan ilmiah serta teoritis dari berbagai literature untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi.

II. KEADAAN UMUM

2.1 Keadaan Lokasi

Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok merupakan salah satu instansi pemerintah yang terletak dibagian tengah dan barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. BBL Lombok memiliki tiga stasiun pengembangan yaitu Gerupuk di Kabupaten Lombok Tengah, SEkotong di Kabupaten Lombok Barat dan Karang Asem di Provinsi Bali. Stasiun Sekotong terletak di Dusun Gili Genting, Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Secara geografis tempat ini berada pada 115046’ – 116028’ BT dan 8012’ – 8055’ LS dengan ketinggian 5 meter (topografi). Jarak antara Balai Budidaya Laut Lombok dengan Ibu Kota Provinsi (Mataram) sekitar + 50 km.

Stasiun Sekotong BBL Lombok terletak di perairan Teluk Sekotong dengan kondisi perairan karang berpasir yang bersih dan jernih karena tidak ada kegiatan industri, bukan merupakan jalur pelayaran umum, dan letaknya jauh dari perumahan penduduk. Adapun batas wilayah BBL Lombok yaitu sebelah timur berbatasan dengan Balai Pengembangan Budidaya Perairan Pantai (BPBPP) Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTB dan Dusun Pengawisan; sebelah barat berbatasan dengan dengan perkampungan Dusun Gili Genting; sebelah Utara berbatasan dengan Selat Lombok; dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kedaru.

Gambar 1. Balai Budidaya Laut Lombok, Stasiun Sekotong (Wikimapia, 2010)

2.2 Organisasi dan Ketenagakerjaan

Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok merupakan salah satu stasiun pengembangan BBL Lampung pada tahun 1992. Balai ini dibangun di pesisir Teluk Gerupuk, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kab. Lombok Tengah NTB. Pada tahun 1994, status stasiun meningkat menjadi Loka Budidaya Laut Lombok yang merupakan instansi Eselon IV dibawah pembinaan Direktorat Perbenihan, Direktorat Jendral Perikanan Departemen Pertanian.

Tahun 2000, seiring dengan lahirnya Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, Loka Budidaya Laut berada dibawah pembinaan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya memperoleh peningkatan anggaran dan penambahan sarana produksi di Dusun Gili Genting, Desa sekotong Barat, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Status Loka Budidaya Laut Lombok meningkat menjadi Balai Budidaya Laut Lombok pada tahun 2006 sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan di bidang budidaya laut berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER. 10/MEN/2006. Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 47 Tahun 2002,

Adapun pembagian tugas dan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Kepala Balai Budidaya Laut, mempunyai tugas
  2. Memimpin, merencanakan dan mengkoordinasi segala kegiatan Balai Budidaya Laut Lombok agar dapat mencapai tujuan
  3. Memantau pelaksanaan kegiatan usaha pembenihan dan pembudidayaan ikan laut serta permasalahan yang timbul
  4. Menganalisa dan mengevakuasi semua kegiatan yang telah dilakukan berdasarkan laporan
  5. Membuat laporan tahunan kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
  6. Melaksanakan tugas – tugas yang diberikan oleh Diretorat Jenderal Perikanan Budidaya
    1. Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas
  7. Melakukan penyusunan rencana program dan anggaran
  8. Pengelolaan administrasi keuangan, kepegawaian, jabatan fungsional, persuratan, barang kekayaan milik negara dan rumah tangga
  9. Evaluasi dan pelaporan

Sub Bagian Tata Usaha dibagi menjadi 2 sub bagian, yaitu :

  1. Pelaksana Kepegawaian, bertugas untuk membantu kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan produksi secara langsung (misalnya : pembelian solar atau alat – alat produksi)
  2. Pelaksana Keuangan, bertugas untuk mengatur keuangan Balai Budidaya Laut Lombok
    1. Seksi Standarisasi dan Informasi mempunyai tugas
  3. Melakukan persiapan bahan standar teknik dan pengawasan perbenihan dan pembudidayaan ikan laut dan pengendalian hama dan penyakit ikan, lingkungan, sumber daya induk dan benih ikan laut
  4. Pengelolaan jaringan informasi dan perpustakaan

Seksi Standarisasi dan Informasi sendiri dibagi menjadi 2 sub bagian, yaitu :

  1. Pelaksana Laboratorium, bertugas untuk membina, mengatur dan mengelola laboratorium serta sebagai pelaksana dari kegiatan di dalam laboratorium, seperti kultur pakan alami dan pengecekan kualitas air
  2. Pelaksana budidaya, bertugas untuk membina, mengatur, mengelola serta sebagai pelaksana dari kegiatan budidaya (produksi) yang ada di dalam Balai Budidaya Laut Lombok
    1. Seksi Pelayanan Teknik mempunyai tugas melakukan teknik kegiatan pengembangan, penerapan, serta pengawasan teknik perbenihan dan pembudidayaan ikan laut. Seksi Pelayanan Teknik sendiri dibagi menjadi 3 sub bagian, yaitu :
  3. Pelaksana Pelayanan Teknis, bertugas untuk memberi petunjuk teknis tentang kegiatan yang ada dalam balai
  4. Pelaksana Info dan Publik, bertugas untuk member arahan kepada masyarakat tentang keadaan dan kegiatan balai secara umum serta melakukan publikasi tentang Balai Budidaya Laut Lombok
    1. Kelompok Jabatan Fungsional di Lingkungan BBL mempunyai tugas
  5. Melaksanakan kegiatan perekayasa, pengujian, penerapan dan bimbingan hama dan penyakit ikan
  6. Pengawasa perbenihan dan pembudidayaan
  1. Penyuluhan serta kegiatan lain sesuai tugas masing – masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku

Gambar 2. Struktur organisasi Balai Budidaya Laut Lombok

Jumlah pegawai Balai Budidaya Laut Lombok di Stasiun Sekotong sampai bulan Agustus tahun 2010 tercatat ada 55 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Daftar Pegawai Balai Budidaya Laut Lombok Stasiun Sekotong dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Daftar Pegawai Balai Budidaya Laut Lombok Stasiun Sekotong

No Nama Gol/Ruang Jabatan
12 

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

Ir. H. Sarifin, MSIr. Sunarty 

Rusman H.S.Pi,M.Si

Bagja Irwansyah, A.Pi

Bayu Priyambodo, S.pi, M.si

M. Tahang, S.St.Pi

Mustapa,S.Pi

Hery Setyabudi, S.Pi

Arsyad Sajangka, S.Pi

Sarwono,S.St.Pi

Woro K.P, S.pi

Zainuddin, S.Pi, MP

Mochamad Amiri, S.Pi

Baiq Shafiah, S.St.Pi

Aang Guntur J.A, S.H

Joko Santosa, S.K.H

Pramularsih Ari Windu, S.Si

Afni Isriani, A.Md

Ekky Nidyananda, A.Md

Taufan Haryono

Ni Luh Anggra L., S.St.Pi

Nurhasanah S.

Titik Hartani

Wildan

Bangun

Aprisanto D. L., A.Md

Imron Nurkolis, A.Md

Renni Kusuma Bakti, A.Md

Mohamad Imanuddin

Arif Supriyanto

Muhammad Rizal

Andry Arfiyanto

Suherlan Ahmad S.

Reman

Ni Made Widya Indayani

Abu Abas

Libuh

Ngurah Sedana Yasa, S.Pi, M.si

Luluk Widiyanti, S.Pi, MP

Supriadi, S.Pi

Zaenah

I Komang Widiana, S.Si

Dony Prastowo, S.Pi

Muhammad Hidayat, S.St.Pi

Rusmini

Setiasari Palupi, A.md

Sukriadi

Minde

Ade Yana

Landra Wijaya

Ahing

Desy Suci Lestari, S.AP

Moh. Budiato, AMd

Gagan Garnawansah, S.Pi

Muchammad Nurul Huda, A. md

IV/aIII/d 

III/c

III/d

III/c

III/b

III/a

III/b

III/b

III/b

III/b

III/c

III/a

III/a

III/a

III/a

III/a

II/c

II/c

II/a

III/a

II/d

II/d

II/d

II/d

II/d
II/d

D3

D3

II/d

II/b

II/b

II/b

II/a

II/a

II/a

II/a

III/d

III/c

III/a

III/a

III/a

III/a

III/a

III/a

II/d

II/d

II/c

II/b

II/b

II/a

III/a

II/c

III/a

II/c

Kepala BalaiPengawas benih ikan muda 

Ca.Pengawas Pembudidaya ikan

Kasubag Tata Usaha

Kasi Standarisasi dan Informasi

Perekayasa Muda

Bendahara Pengeluaran

Perekayasa Pertama

Perekayasa Pertama

Perekayasa Muda

Calon Perekayasa

Pengawas Benih ikan muda

Perekayasa Pertama

Calon Pengawas Budidaya

Pranata Hukum

Calon PHPI

Calon PHPI

Calon Pengawas Benih

Calon PHPI

Teknisi Litkayasa Pelaksana Muda

Perekayasa Pertama

Pengawas Benih Ikan Pelaksana

Pengawas Benih Ikan Pelaksana

Pengawas Benih Ikan Pelaksana

Pelaksana Pembesaran Ikan Kerapu

Teknisi Litkayasa Pelaksana

Teknisi Litkayasa Pelaksana

Tenaga Fungsional Tertentu

Teknisi Litkayasa Pelaksana Pemula

Pelaksana Pakan alami

Teknisi Litkayasa Pelaksana

Teknisi Litkayasa Pelaksana

Calon Pengawas Benih Ikan

Calon Pengawas Benih Ikan

Calon Pengawas Benih Ikan

Calon Pengawas Benih Ikan

Calon Pengawas Benih Ikan

Perekayasa Muda

PHPI Muda

Pengawas Perikanan

Petugas SAKPA

Tenaga Teknisi

Calon Perekayasa

Calon Pengawas Budidaya

Pengelola Persuratan dan Pengagendaan

Calon Pengawas Benih Ikan

Pelaksana Pembenihan

Pengelola Perpustakaan

Pelaksana Pembenihan Abalon

Calon Teknisi Litkayasa

Calon Pengawas Benih Ikan

Penyiap Bahan Rumusan

Calon PHPI

Calon Perekayasa

Calon Litkayasa Bidang BD Ikan

Sumber: Tata Usaha BBL Lombok, 2010

2.3 Fasilitas Fisik

2.3.1 Fasilitas Utama Pembenihan

Fasilitas utama pada pembenihan abalon di BBL Lombok terdiri dari bak tendon, bak pemeliharaan induk, bak pemijahan, bak penetasan telur yang juga berfungsi sebagai bak pemeliharaan larva, bak pemeliharaan benih, wadah kultur pakan alami, serta wadah penyimpanan rumput laut.

2.3.1.1 Wadah dan Tata Letak

Hatchery abalon di BBL Lombok yakni sebuah bangunan dengan ukuran 180 m2 yang dibagi menjadi dua ruangan, yaitu ruangan pemeliharaan dan pemijahan induk serta ruangan pemeliharaan larva. Wadah yang digunakan dalam kegiatan pembenihan abalon terdiri dari wadah pemeliharaan induk sebanyak 10 bak, wadah pemijahan sebanyak 4 bak, wadah pengumpul telur (egg collector box), wadah penetasan telur dan  pemeliharaan larva sebanyak 8 bak, wadah kultur pakan alami (micro bentic diatom) dan wadah pakan rumput laut (Glacillaria sp.)

Wadah pemeliharaan induk, pemijahan, dan pemeliharaan larva berupa bak fiber glass (bak fiber) berbentuk balok dengan dimensi (3x1x0.6) m3 yang dapat menampung air 1.5 m3 dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet serta 4 titik aerasi. Pada saluran inlet dipasang penyaring berupaserat polipropilen (pp) berukuran pori 10 µm.

(a)                                                           (b)

Gambar 3. Hatchery : (a) indoor; (b) outdoor

a. Bak pemeliharaan induk dan pemijahan

Bak pemeliharaan induk juga difungsikan sebagai bak pemijahan. Pada bak ini dipasang 3 buah kotak industri berukuran (0.6×0.5×0.4) m3 yang dirangkai menjadi satu sebagai wadah induk. Kotak industri digunakan agar induk tidak merayap keluar dari bak. Di dalam kotak industri diletakkan shelter yang terbuat dari  pipa PVC berdiameter 6 inci dengan panjang 30 cm yang dibelah menjadi dua bagian sebanyak satu unit pada tiap kotak sebagai tempat berlindung bagi abalon serta mencegah spontagenous spawning atau pemijahan liar.

Pada bagian outlet dipasang pipa L untuk mengatur ketinggian air, serta di depannya diletakkan wadah penampung telur (egg collector). Egg collector ini merupakan bak plastik berukuran (0.5×0.4×0.33) m3 yang dilengkapi dengan plankton net berukuran 60µm.

Kotak Industri           Pipa PVC berdiameter 6 inci

Gambar 4. Bak Pemeliharaan dan Pemijahan Induk

b. Bak pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih

Pada bak pemeliharaan larva, diletakkan 20 unit feeding plate sebagai tempat penempelan pakan alami dan larva abalon. Larva yang telah memasuki stadia benih di pendahkan ke wadah berupa kotak industri berdimensi (0.6×0.5×0.4) m3 dan wadah silinder berdiameter 0.5 m dengan tinggi 0.6 m yang diatasnya dipasangi penutup berupa waring. Pada tiap wadah dilengkapi shelter sebagai tempat menempel dan berlindung.

Feeding plate

Gambar 5. Wadah pemeliharaan larva dan benih

Tabel 2. Wadah pemeliharaan  induk, pemijahan induk, dan pemeliharaan larva abalon beserta alat-alatnya

No Alat Spesifikasi Jumlah Kegunaan
1 Bak Induk Fiber, ukuran : 3x1x0,6 m³ 13 buah Wadah pemeliharaan induk
2 Bak Larva Fiber,ukuran:  3x1x0,6 m³ 11 buah Wadah pemeliharaan larva
3 Bak Pemijahan Fiber ukuran:1,5×0,5×0,5  m³ 2 buah Tempat pemijahan
4 Bak penampung Gracillaria sp. Beton ukuran :1,95 x 1,85 x 1,5 m³ 6 buah Wadah penyimpanan pakan induk
5 Tandon/Reservoir Beton : 20x5x2 m³ 1 buah Tempat penampungan utama air laut
5 Keranjang 60x40x30 cm³ 30 buah Wadah pemeliharaan induk
6 Toples Vol. 5 dan 10 15 buah Wadah penyiapan pakan awal larva
7 Shelter Pipa PVC Ǿ 8 inch(bagi dua) 100 buah Tempat menempel dan berlindung abalone
8 Selang spiral Ø 1 inch 2 buah Siphon telur dan selang aerasi
9 Counting Cell Haemacytometer 1 buah Menghitung jumlahPlankton
10 Saringan Cartridge Filter,Nylon, 1 μm 6 buah Menyaring air laut
11 Bak pengumpultelur Plastik, ukuran60x40x30 cm³ 1 buah Wadah untuk penampung Telur
12 Piring Plastik, Ǿ17,5 cm 1 buah Wadah untuk penghitunganTelur
13 Pipet tetes 1 ml dan 2 ml 2 buah Alat sampling telur
14 Beaker glass P yrex 500 ml 1 buah Wadah untukSampling
15 Hand TallyCounter Niko 1234 2 buah Alat bantu penghitung telur
16 Bakpakan induk 4x3x1,5 m³ 2 buah Wadah penampunganpakan induk
17 Rearing Plate Polyvinyl 40×40  cm³ 120 buah Substrat penempel
18 egg collector 60 µm 1 buah Wadah pengumpul telur
180 µm 1 buah
  1. c. Wadah kultur pakan alami

Kultur pakan alamiuntuk larva abalon dilakukan di laboratorium pakan alami. Pakan alami yang dikultur dengan skala laboratorium dilakukan pada wadah toples dengan volume 25 liter dengan kapasitas ruangan hingga 12 toples. Ruangan ini dilengkapi denga AC dengan suhu ruangan (±20ºC)

Gambar 6. Wadah kultur pakan alami

a. Wadah penyimpanan rumput laut

Pakan yang diberikan untuk induk dan benih rumput laut yakni rumput laut jenis Gracllaria yang disimpan pada wadah bak beton berbentuk balok berukuran (1.95×1.85×1.5) m3 bervolume 4000 L sebanyak 11 unit. Terdapat pematangt di antara bak tersebut dengan panjang 15 cm sebanyak 10 buah. Inlet berupa pipa PVC berukuran 1 ½ inci dan outlet berukuran 2 inci yang airnya langsung dibuang ke laut.

Gambar 7. Bak rumput laut

2.3.1.2 Air dan Sistem Suplai

a. Sistem Suplai Air Laut

Air laut yang digunakan bersumber dari perairan Teluk Sekotong. Distribusi air laut hingga ke tendon dilakukan dengan menggunakan pompa merek Stork jenis CV-2082-4 yang dihubungkan melalui pipa PVC berdiameter 6 inci untuk inlet dan 4 inci untuk outlet. Pompa air laut yang digunakan terdapat tiga unit yang berfungsi secara bergatian. Panjang saluran inlet yang digunakan adalah ± 100 meter dari pantai. Air laut kemudian ditampung di dalam sebuah tendon beton berukuran (20x5x2) m3 yang dapat menampung air laut sebanyak 200000 L air. Air yang telah ditampung akan dialirkan ke seluruh unit budidaya yang berada dibalai setelah melalui filter fisik berupa sand fiter.

Gambar 8. Sistem suplai air laut

  1. a. Sistem Suplai Air Tawar

Sumber air tawar yang digunakan berasal dari tiga sumur bor yang terletak di kawasan perumahan karyawan BBL Lombo. Distribusi air tawar dilakukan dengan menggunakan tiga buah pompa Shimitzu Italy jenis PC-260BIT. Kapasitas 75 L/menit. Terdapat tiga buah tangki yang digunakan dengan merek Neo shimitzu model PT-190BIT berkapasitas 19 L. Air dialirkan ke dalam tendon air tawar yang letaknya berdekatan dengan lokasi pompa.

Gambar 9. Sistem suplai air tawar

1.3.1.3 Sistem Aerasi

Sistem aerasi yang digunakan di BBL Lombok adalah tiga buah blower merek Showfou tipe R8-732 dengan frekuensi 50 Hz, ouput 7.5 HP, diameter 65 mm, tegangan 380 V, arus 12 A, bobot 85 Kg, putaran 2850 rpm, tekanan 1500 mmAq, dan kapasitas 4.9 m3/menit. Blower ini terdapat di rumah pompa. Blower diatur menggunakan panel listrik.

(a)                                                      (b)

Gambar 10. Blower (a), Panel listrik (b)

Sistem aerasi yang digunakan pada hatchery abalon yakni HIBLOW tipe HP-150 sebanyak satu buah. Pipa PVC yang digunakan berdiameter ¾ inci dengan lubang pada pipa sebanyak ± 70 titik. Selang aerasi yang digunakan berbahan plastic dengan diameter ¼ inci sebanyak 90 buah.

2.3.2 Fasilitas Pendukung

2.3.2.1 Sumber Energi

Sumber energi yang digunakan untuk semua keperluan dibalai adalah listrik yang berasal dari PLN dengan daya 82.5 KVA dan generator set (genset) dengan kapasitas 150 KVA. Sumber energi lain berupa bensin dan solar yang digunakan dalam proses transportasi, selain itu digunakan juaga gas LPG untuk memanaskan air dalam kultur pakan alami serta sterilisasi alat.

Gambar 11. Sumber energi :Genset

2.3.2.2 Sarana dan Prasarana

Fasilitas pendukung berupa bangunan yang ada di BBL Lombok yakni kantor, asrama sebagai tempat penginapan tamu dan peserta pelatihan, perumahan dinas karyawan, guest house sebagai tempat peristirahatan tamu khsus, musholah yang berada di wilayah hatchery, koperasi, rumah jaga yang beroperasi selama 24 jam, rumah genset, rumah pompa, ruang mekanik sebagai tempat meletakkan peralatan mekanik, laboratorium lingkungan dan kesehatan, laboratorium pakan alami, gudang, tempat pembersihan jarring, serta lapangan badminton.

Gambar 12. Bangunan-bangunan di BBL Lombok : Kantor (a), Rumah jaga (b), Mushola (c), Koperasi (d), Rumah Genset (e), Rumah pompa (f), Ruang mekanik (g), Gudang (h)

Alat transportasi yang dimiliki oleh BBL Lombok ada enam unit mobil dan dua unit sepeda motor sebagai alat transportasi darat, dua unit speed boat berdaya 15 PK dan satu unit berdaya 40 PK sabagai alat transportasi laut. Adaoun alat komunikasi yang digunakan di BBL Lombok adalah telepon kantor, fax, dan fasilitas internet dengan system wireless fidelity. Prasarana fungsional laut yang dimiliki oleh balai ini yaitu dua buah kapal, 1 buah speed boat, dan KJA yang digunakan dalam kegiatan pembesaran ikan kerapu, abalon, tiram mutiara, lobster, dan ikan napoleon.

Tabel 3. Fasilitas Prasarana Balai Budidaya Laut Lombok

Prasarana Jumlah (Unit)
Bangunan
1. Kantor/Administrasi 

2. Lab. Pakan Alami skala Lab

3. Lab. Pakan Alami Skala Semi Massal

4. Lab. Pakan Buatan

5. Lab. Manajemen Kesehatan Lingkungan

6. Gudang Pakan

7. Mushola

8. Asrama

9. Koperasi

10. Rumah jaga

11. Rumah Genset

12. Rumah Pompa

13. Kolam Pembuangan

14. Gudang

15. Dermaga

16. Tempat pembersihan jarring

17. Rumah Pegawai

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

27

Sumber Energi Tenaga Listrik
1. Generator 50 KVA 

2. Generator 80 KVA

3. PLN 125 KVA

1

1 unit

Komunikasi:
1. Telepon 

2. Faksimil

3. HT

1

8

Transportasi:
1. Kendaraan roda empat (mobil) 

2. Kendaraan roda dua (motor)

3. Speed Boat

2

3

Sarana yang terdapat di BBL Lombok terdiri dari hatchery abalon, hatchery kerapu, dan hatchery tiram mutiara. Pada hatchery abalon terdapat tempat pemeliharaan induk, pemijahan induk, serta pemeliharaan benih. Bagian luar hatchery merupakan tempat pemeliharaan larva serta kultur missal pakan alami. Selain itu, terdapat pula laboratorium pakan alami sebagai tempat kultur pakan alami semi massal.

Hatchery kerapu memiliki tiga buah bangunan besar dimana pada bangunan pertama merupakan tempat pendederan kerapu, bangunan kedua merupakan bangunan tertutup yang digunakan untuk kultur pakan alami, dan bangunan ketiga merupakan tempat pemeliharaan larva. Hatchery tiram mutiara terdapat satu buah bangunan yang memiliki tujuh ruangan besar, yakni dua ruangan besar untuk pembenihan tiram, satu laboratorium pakan alami khusus tiram mutiara, satu laboratorium pakan alami umum, ruangan tendon air, ruanganfilter air, dan ruangan depan.

  1. III. KEGIATAN PEMBENIHAN

3.1 Pemeliharaan Induk

3.1.1 Persiapan wadah

Persiapan wadah merupakan kegiatan awal yang dilakukan sebelum menebar induk ke dalam bak. Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman bagi abalon serta menghilangkan hama yang dapat mengganggu saat proses pemelihaaan. Kegiatan ini dimulai dari membersihkan bak fiber ukuran (3x1x0,6) m³ dari kotoran-kotoran yang menempel. Bak dikuras dengan mengeluarkan air seluruhnya dari dalam bak kemudian digosok dengan lap atau spons kasar sehingga kotoran seperti lumut dan teritip yang menempel dapat terlepas. Setelah itu, dilakukan sterilisasi menggunakan kaporit dengan dosis 10-20 ppm/1.5 m3 air tawar, dan dibiarkan selama 2-3 hari agar bak steril kemudian dikeringkan lalu diisi dengan air dan diberi aerasi.

Setelah dilakukan sterilisasi, dilakukan pemasangan cartridge filter dengan serat polipropilen (pp) berpori 10 µm pada saluran inlet, selanjutnya bak diisi dengan air laut setinggi 50 cm disertai dengan sistem pergantian air mengalir ( flow  through ) selama 24 jam  yang dilengkapi dengan pemasangan aerasi pada 4 titik dengan jarak masing-masing aerasi 75 cm. Pada bak ini dipasang 3 buah kotak industri berukuran (0.6×0.5×0.4) m3 yang dirangkai menjadi satu sebagai wadah induk. Kotak industri digunakan agar induk tidak merayap keluar dari bak. Di dalam kotak industri diletakkan shelter yang terbuat dari  pipa PVC berdiameter 6 inci dengan panjang 30 cm yang dibelah menjadi dua bagian.

Gambar 13. Kotak industry (a), shelter (b)

3.1.2 Penebaran Induk

Induk yang akan ditebar adalah berasal dari tangkapan nelayan di alam serta para pengumpul. Induk berasal dari Gili Gede (Lombok Barat), Gerupuk (Lombok Tengah), Bali, dan ada pula yang didatangkan dari hasil breeding yang budidayakan di stasiun gerupuk. Ukuran induk jantan dan betina yang baik adalah 5-7 cm. Jumlah induk yang ditebar adalah 1500 ekor induk jantan dan 2500 ekor induk betina. Dengan padat tebar 200-300 ekor/1.5 m3 air laut.

Sebelum dilakukan penebaran induk, terlebih dahulu dilakukan penyeleksian dengan mengecek kondisi tubuh serta cangkang. Adapun kriteris induk yang sehat yakni tidak terdapat cacat atau luka pada tubuh, dapat melekat dengan kuat, aktif bergerak, cangkamg mengkilat dan berwarna cerah. Setelah itu dilakukan proses aklimatisasi selama 1–2 bulan yang dilanjutkan dengan pemisahan induk jantan dan induk betina untuk menghindari spontaneous spawning. Proses aklimatisasi ini dilakukan dengan cara induk ditebar dengan kepadatan rendah yaitu 100 ekor/bak kemudian dilakukan sirkulasi air yang besar, mengalir kontinyu serta dijaganya kualitas air yang dilakukan dengan cara disiphon setiap hari. Setelah itu diberikan pakan rumput laut yang bervariatif.

Untuk membedakan induk jantan dan betina, dapat dilakukan dengan melihat langsung pada gonadnya. Terdapat perbedaan warna antara gonad jantan dan betina. Gonad pada induk jantan berwarna oranye sedangkan gonad induk betina berwarna hijau kebiruan. Induk yang siap memijah adalah induk yang gonadnya telah terisi sel telur dan sperma minimal 60% dari panjang gonadnya.

Gambar 14. Induk Abalon

3.1.3 Pemberian Pakan

Pakan yang dibrikan untuk induk abalon adalah rumput laut jenis Gracillaria sp. segar yang merupakan salah satu makro alga merah. Rumput laut ini berasal dari tambak. Selain Gracillaria sp., diberikan pula pakan berupa Ulva sp. namun pemberian pakan jenis ini tidak intensif diberikan.

Gambar 15. Pakan Abalon : Selain Gracillaria sp (a), Ulva sp. (b)

Metode pemberian yang digunakan yakni ad libitum (selalu tersedia). Feading frekuensi abalon yakni 1 hari sekali pada pagi hari pukul 08.00 WITA dengan cara diletakkan ke dalam kotak industry atau bak pemeliharaan. Feeding rate (FR) pakan untuk abalon adalah 20-25 % dari biomassa abalon. Saat pemberian pakan, perlu diperhatikan kebersihan dan kesegaran pakan. Pleh karena itu, terlebih dahulu harus dilakukan pencucian pakan yang bertujuan untuk membersihkan kotoran serta menghindari adanya predator yang menempel pada pakan seperti kepiting, siput, dan lain sebagainya.

3.1.4 Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan air dilakukan menggunakan system air mengalir dan penyiponan pada dasar bak yang dilakukan setiap hari. Debit air yang digunakan sekitar 0.1 liter/detik. Kemudian jika terdapat abalon yang mati langsung dibuang, kran inlet ditutup dan ¾ air dalam bak di buang. Kematian abalon dapat diketahui dengan aroma yang tidak sedap (amis) pada bak. Kegiatan penyiponan dilakukan denganmengugunakan pipa paralon yang dihubungkan dengan selang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengeluarkan kotoran serta sisa rumput laut yang tidak termakan.

Gambar 16. Kegaiatan penyiponan bak

Untuk menjaga kualitas air, air laut yang dialirkan untuk pemeliharaan larva, benih, serta kultur pakan alami massal disaring menggunakan cartridge filter dengan filter (serat) berukuran 1 mikron dan bahan penyaring dapat diganti setelah ± 3 minggu. Sedangkan air laut yang dialirkan ke dalam bak pemeliharaan induk, penyimpanan rumput laut, dan penetasan telur tidak menggunakan cartridge filter. Bak pemijahan menggunakan filter fisik berupa pasir sungai, pasir kuarsa, arang aktif, karang, keranjang krat, dan pipa yang telah dilubangi. Semua bahan filter tersebut dimasukkan ke dalam tandon yang berada di dalam hatchery.

Pemantauan Kualitas air di hatchery BBL Lombok dilakukan 2 kali dalam satu bulan. Parameter  kualitas air yang diamati adalah DO, pH, Salinitas, dan Suhu. Berikut data Kualitas air bulan Juni dan Juli 2010 pada hatchery abalon.

Tabel 4. Pemantauan Kualitas air pada bulan Juni dan Juli

Tanggal Parameter Kualitas Air
DO (ppm) pH Suhu (0C) Salinitas (ppt)
29 Juni 2010 5.30 6.4 28.1 36
30 Juni 2010 5.66 7.4 27.4 34
22 Juli2010 14.22 7.5 27.7 33
23 Juli 2010 7.8 - 28.6 33

3.1.5 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

Jenis penyakit yang menyeran abalon adalah penyakit karat. Gejala klinis penyakit ini yaitu timbulnya warna kecoklatan seperti karat pada bagian selaput gonad. Selain itu,daging abalon akan tampak berwarna pucat, tampak lemas, dan menurunnya respon gerak abalon ketika dipegang. Dalam waktu 5-6 hari selaput gonad akan sobek dan daging abalon akan lepas dari cangkangnya kemudian mati. Penyakit karat umumnya menyerang induk abalon yang sudah tidak produktif lagi. Selain itu, penyakit ini dapat muncul ketika terjadi fluktuasi suhu.

Tindakan pencegahan yang dilakukan adalah dilakukan karantina begi abalon yang sakit agar tidak menularkan penyakitnya ke abalon yang lain. Penanganan secara hati-hati yang dilakukan dengan menggunakan bahan elastic saat memindahkan abalon yang sedang menempel untuk menghindari luka.

Gambar 17. Penyakit Karat

Selain penyakit, budidaya abalon juga sering terganggu dengan keberadaan hama. Hama dapat berupa predator yang dapat memangsa abalon contohnya kepiting laut. Selain itu, terdapat pula hama pengganggu yang dapat menyaingi ruang gerak serta menyaingi abalon dalam mendapatkan makanan serta oksigen contohnya teritip.

Keberadaan hama pada abalon dapat dicegah dengan membersihkan pakan sebelum diberikan ke abalon, melakukan pengontrolan wadah secara kontinyu, dan memusnahkan hama yang ditemukan di dalam maupun di luar wadah.

3.1.6 Sampling Kematangan Gonad

Kematangan gonad abalon terjadi sebulan 2 kali yang dapat diketahui pada hari sebelum atau sesudah bulan gelap dan terang. Mengetahui bulan tersebut dapat dilihat pada kalender Bali. Sampling dilakukan menjelang waktu pemijahan. Untuk membedakan induk jantan dan betina dapat dilakukan dengan membedakan warna gonad. Gonad pada induk jantan berwarna oranye sedangkan gonad induk betina berwarna hijau kebiruan. Induk yang siap memijah adalah induk yang gonadnya telah terisi sel telur dan sperma minimal 60% dari panjang gonadnya, dalam kondisi penuh (menggembung) dianggap 100%.

Gambar 18. Induk yang telah matang gonad

Agar dapat melihat gonad abalon, maka digunakan alat berupa spatula untuk menguak otot pada sisi yang berlawanan dari letak lubang pada cangkang. Induk yang telah diseleksi diletakkan pada kotak industry di bak pemijahan dengan membedakan kotak antara jantan dan betina namun pada bak yang sama.

3.2 Pemijahan Induk

3.2.1 Persiapan Wadah

Pemijahan abalon yang dilakukan di BBL Lombok yakni pemijahan massal. Pada pemijahan massal digunakan bak fiber berukuran (3x1x0.6) m3 dengan volume air sebanyak 1500 L. pada wadah dipasang 3 buah kotak industri berukuran (0.6×0.5×0.4) m3 yang dirangkai menjadi satu sebagai wadah induk. Dua kotak untuk menyimpan induk batina dan satu kotak untuk menyimpan induk jantan. Perbandingan induk jantan dengan betina adalah 1 : 3.

Pada persiapan wadah pemijahan dilakukan dengan mengeringkan wadah terlebih dahulu lalu disikat sampai bersih. Setelah itu bak di rendam menggunakan kaporit atau klorin dan dibiarkan selama dua hari kemudian dikeringkan kembali dan dibilas menggunakan air laut. Kotak industry dan shelter dibersihkan dari kotoran serta sisa pakan lalu dijemur dibawah terik matahari.

Selanjutnya, bak fiber dipasang batu aerasi dan timah pemberat sebanyak 5 titik dan air laut dialirkan dari inlet bak pemijahan dan bagian outlet dipasang pipa PVC 1 inchi berbentuk T (di dalam bak) yang dilengkapi filter berupa waring. Kemudian meletakkan box egg collector (penampung telur) berupa ember plastik dan saringan plankton dengan mesh size 60 dan 180 µm pada bak, tepatnya di bawah saluran keluar.

Gambar 19. Pemasangan Egg collector

3.2.2 Teknik Rangsangan Pemijahan

Teknik pemijahan yang dilakukan dalam pemijaha abalon yakni pemijaha alami secara massal sehingga rangsangan pemijahan tidak dilakukan. Berdasarkan wawancara dengan pembimbing lapang, rangsangan pemijahan yang biasa digunakan yaiu rangsangan suhu. Namun, teknik rangsangan ini mengakibatkan rendahnya kualitas telur serta fekunditas telur yang dihasilkan. Hingga saat ini, daya tetas (hatching rate) telur hasil pemijahan alami masih lebih tinggi dibanding telur hasil pemijahan menggunakan rangsangan.

Siklus pemijahan abalon diketahui dengan melihat kalender Bali yakni saat tanggal menunjukkan bulan gelap dan bulan terang.

3.2.3 Penghitungan dan Pemanenan Telur

Pemanenan telur dilakukan saat abalon telah memijah yang ditandai dengan bau amis dari air di dalam bak. Telur yang telah terbuahi akan berada di dasar bak dan kemudian akan menetas menjadi trochopore yang melayang di permukaan air dan akan keluar melalui outlet. Trochopore yang keluar melalui outlet akan terkumpulkan ke dalam saringan penampung telur (egg collector) yang diikatkan pada wadah kotak plastik (egg collector box) berdimensi 55 x 40 x 33 cm yang terdapat di luar pipa outlet bak dan dilengkapi dengan plankton net dengan mesh size 60 µm. Telur atau trochopore yang telah terkumpul di dalam egg collector box diambil dengan menggunakan gayung dan disaring. Proses penyaringan trochopore menggunakan 2 tingkat penyaringan. Penyaringan pertama melalui plankton net dengan mesh size 200 µm, untuk menyaring kotoran yang terbawa. Penyaringan kedua melalui plankton net dengan mesh size 60 µm, untuk menyaring telur atau trochopore. Saat proses penyaringan harus tetap terendam oleh air. Telur atau trochopore yang terkumpul pada plankton net dengan mesh size 60 µm akan terlihat dengan mata telanjang.

Setelah proses pemanenan selesai, trochopore yang terkumpul dimasukkan ke dalam wadah berupa toples berbentuk tabung dengan volume 20 L dan diberi aerasi kecil agar trochopore menyebar rata pada wadah. Penghitungan trochopore dilakukan dengan menggunakan metode volumetric dimana diambil sampel sebanyak 1 ml, kemudian diletakkan pada cawan petri atau piringan putih lalu dihitung jumlah trichopore yang ada. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Setelah didapatkan jumlah rata-rata trochopore kemudian dikalikan jumlah total volume air. Berikut ini adalah rumus untuk menghitung jumlah telur abalon:

Berikut adalah data telur abalon Haliotis squamata yang didapat hathcery BBL Lombok pada bulan Juli 2010.

Tabel 5. Jumlah Telur abalon Haliotis squamata yang dihasilkan pada Juli 2010

Tanggal Jumlah telur Ditebar di Bak
12 Juli 15.000 F5
27 Juli 352000 F5
366666 F6
 

28 Juli

378000 B6
270000 F2
77400 F2
3333 F5

3.3 Pemeliharaan Larva dan Benih

3.3.1 Persiapan wadah

Wadah yang digunakan dalam pemeliharaan larva dan benih adalah bak fiber berukuran (3x1x0.6) m3 yang berisi feeding plate. Tahapan awal dalam persiapan wadah pemeliharaan larva yakni pencucian dan pengurasan bak agar patogen serta mikroorganisme lain yang dapat mengganggu pemeliharaan larva dapat disingkirkan.

Pada pemeliharaan larva abalon, hal yang harus diperhatikan adalah ketersediaan pakan alami saat larva ditebar pada wadah pemeliharaan. Pakan untuk larva abalon berupa diatom yang menempel yakni Nitzschia, Ampora, dan Navicula. Substrat menempel bagi diatom ini berupa feeding plate yang dibuat dari vynil gelombang berbentuk persegi panjang berukuran (50×40) cm2.  Enam lembar vynil gelombang disatukan dengan batang aluminium berdiameter 0.5 cm dan panjang 20 cm yang dirangkai menjadi satu unit feeding plate. Antar lembar vynil dipisahkan oleh potongan pipa paralon sepanjang 3-4 cm. Feeding plate yang telah dibuat disusun di dalam bak  yang telah berisi air laut dengan posisi berjajar memanjang di kedua sisi bak. Bak kemudian diberi aerasi kuat. Bibit Nitzchia sp. Sebanyak ±100-125 liter (4-5 toples ukuran 25 L) yang telah dikultur ditebar ke dalam bak kultur tanpa dilakukan pengaliran air. Kemudian dibiarkan selama ± 2 minggu sampai pakan menempel pada feeding plate. Biasanya wadah yang telah ditebar pakan alami menimbulkan warna keruh pada wadah. Wadah baru dapat digunakan sampai warna air terlihat jernih kembali atau semua pakan menempel pada feeding plate.

Gambar 21. Pakan alami yang telah tumbuh di bak

3.3.2 Penebaran Larva

Setelah dipanen melalui egg collector, trochopore harus segera ditebar di bak pemeliharaan larva. Namun, sebelum ditebar pakan alami untuk larva harus telah tersedia di bak pemeliharaan karena stadia larva merupakan stadia kritis bagi abalon. Pakan alami berupa Nitzchia sp yang telah tumbuh ditandai dengan warna kecoklatan yang menempel pada feeding plate serta dinding bak. Larva abalon yang ditebar berasal dari hasil breading induk alam yakni trochopore dengan ukuran sekitar 80 mikron. Padat tebar yang dilakukan adalah 100-250 trochopore/liter atau 150.000-300.000 trochopore/bak 1.5 ton. Adapun jumlah benih yang ditebar di hatchery BBL Lombok pada periode juli 2010 adalah sebagai berikut:

Tabel 6. Data Larva yang ditebar BBL Lombok pada bulan Juli 2010

Tanggal Jumlah
1 Juli 1345 ekor
2 Juli 470 ekor
3 Juli 63 ekor
6 Juli 214 ekor
15 Juli 972 ekor
29 Juli 687 ekor ( F3~ Asinina) 

617 ekor (F4` Squamata)

3.3.3 Pemberian Pakan

Pemberian pakan pada larva abalon disesuaikan dengan sifatnya yakni benthic atau melekat pada dasar bak. Pakan yang diberikan untuk larva abalon adalah Nitzschia sp atau Navicula sp yang diperoleh melalui kultur di laboratorium yang kemudian ditebar ke bak pemeliharaan larva selama tiga minggu sebelum larva ditebar. Agar pakan alami dapat tumbuh dengan baik, maka pada bak pemeliharaan ditambahkan pupuk.

3.3.4 Pengelolaan Kualitas Air

Untuk menjaga kualitas air selama masa pemeliharaan maka harus dilakukan pergantian air dengan mengalirkan air baru ke dalam bak pemeliharaan. Selain itu, dilakukan pemasangan berupa saringan plankton net 100-250 mikron pada saluran outlet dan saat umur dua bulan ke atas outlet dipasang saringan dari waring hitam dengan mesh size 2-3 mm. Ketika larva telah berumur dua bulan dapat dilakukan penyiponan menggunakan selang berdiameter kecil dan di ujung bagian luar selang saringan diberi saringan agar larva tidak ikut tersedot. Penyiponan dilakukan sekali dalam sehari. Sebelum menyipon, kran air dan aerasi dimatikan. Setelah kegiatan penyiponan selesai, kran air dan aerasi dinyalakan kembali.

3.3.5 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan sterilisasi bak saat persiapan bak serta menyaring air yang masuk dengan filter. Selain itu, untuk menghilangkan organism yang dapat menjadi kompetitor bagi larva, maka dilakukan penyemprotan feeding plate dengan cara mengangkat feeding plate secara perlahan keluar dari bak kemudian ditempatkan pada wadah plastik berisi air laut lalu direndam dan digosok hingga bersih lalu dialirkan air laut bersih.

3.3.6 Sampling Pertumbuhan

Kegiatan sampling pertumbuhan  pada pembenihan abalon di hatchery BBL Lombok jarang dilakukan. Namun pada saat praktek kami melakukan sampling larva sekali dengan mengukur panjang cangkang dan bobot larva yaitu pada pada larva sampai benih berukuan 2 cm. Berikut tabel data sampling larva bulan juli 2010  sebanyak 20 ekor yang diambil secara acak.

Gambar 22. Sampling pertumbuhan

Tabel 7. Data Sampling Larva Bulan Juli 2010

No Panjang (mm) Berat (gram)
1 25.00 2.28
2 23.00 1.38
3 20.00 1.00
4 31.00 3.74
5 34.00 5.89
6 30.00 3.42
7 42.00 9.45
8 42.00 12.21
9 40.2 8.02
10 49.50 19.02
11 51.00 22.37
12 55.00 26.35
13 64.00 44.13
14. 63.00 46.93
15 61.00 39.18
16 70.00 55.56
17 72.00 66.67
18 70.00 56.29
19 49.00 18.59
20 45.10 13.40

3.3.7 Penghitungan Kelangsungan Hidup dan Pemanenan Benih

Panen dilakukan dengan memindahkan seluruh benih yang berada di outdoor ke bak indoor secara hati hati dengan menggunakan spatula. Benih yang dipindahkan berukuran 1.5 – 3 cm yang berumur 5 bulan. Jumlah yang biasa didapat per siklus sekitar 1500-3000 ekor benih. Perhitungan dilakukan secara bersamaan saat benih dipindahkan.

3.3.8 Pengepakan dan Transportasi Benih

Pada proses pengepakan benih digunakan styrofoam berukuran standar dan plastik packing ukuran 50-75 liter. Teknik pengepakan dilakukan dengan mengemas abalon hidup dalam kantong plastik yang telah diisi air laut bersih dan oksigen murni dengan perbandinganantara air dengan oksigen yakni 1:15 kemudian diberi rumput laut segar sebagai substrat untuk menghindari sifat abalon yang suka bergerombol. Untuk mempertahankan sehu dan mengurangi proses metabolisme pada abalon maka digunakan es batu. Sebelum dilakukan packing terlebih dahulu dilakukan pemberokan selama 1 hari sebelumnya. Untuk kepadatan dalam 1 kanton plastik berkisar antara 400-600 ekor/kantong.

3.4 Kultur Pakan Alami

3.4.1 Persiapan Wadah

Wadah yang digunakan pada kultur pakan alami skala laboratorium yakni toples berbentuk tabung dengan volume 25 L dan peralatan yang dipakai adalah selang beserta batu aerasi, tabung reaksi, erlenmeyer, corong, gelas kimia dan gelas ukur. Tahap awal dalam persiapan wadah kultur pakan alami adalah mencuci semua wadah, selang, batu aerasi, tabung reaksi, erlenmeyer, corong, gelas kimia dan gelas ukur dengan sabun hingga bersih dari kotoran. Setelah itu, wadah dan peralatan direndam ke dalam larutan HCl 10% selama ±20 detik kemudian dibilas dengan air tawar. Wadah dan peralatan yang telah dibilas kemudian dicelupkan kedalam air panas yang telah mendidih lalu ditiriskan.

Toples yang telah kering disimpan ditempat yang bersih dan bersuhu dingin (20-250C), sedangkan tabung reaksi, erlenmeyer, corong, gelas kimia dan gelas ukur ditutup dengan alumunium foil dan dimasukkan kedalam tempat kering dan bersih. Sebelum digunakan peralatan tersebut terlebih dahulu disemprot dengan alkohol 70%.

Untuk kultur pakan alami skala massal, digunakan wadah berupa bak fiber. Sebelum digunakan, bak tersebut harus dicuci dan dikeringkan. Setelah itu dilakukan sterilisasi menggunakan kaporit dengan dosis150-200 ppm dan disirkulasi selama 1 minggu. Kemudian dilakukan pengurasan bak dan diisi dengan air laut.

3.4.2 Pembuatan Pupuk

Pupuk yang digunakan dalam kultur pakan alami skala lab adalah Na medium. Berikut ini merupakan komposisi dari pupuk pada kultur pakan alami skala laboratorium:

Tabel 8. Komposisi pupuk Na medium pada kultur pakan alami skala lab

Komponen Komponen
Na Medium Vitamin Mix Silikat
NaO3 : 100 gr Biofin : 100 mg Sodium silikat : 30 gram
NaHpO4H2O : 14 gr Tiamin 700 mg Aquades 1 liter
NaHCO3 : 12.6 gr Vit 12 : 100 mg
EDTA : 18,1 gr
Clewat : 100 gr

Sedangkan pupuk yang digunakan pada kultur pakan alami secara massal yakni campuran dari 50 gram NaNO3, 10 gram HPO4, dan 150 ml silika.

Gambar 23. Pemberian pupuk

3.4.3 Sampling Populasi

Sampling populasi hanya dilakukan pada skala lab. Perhitungan kepadatan phytoplankton dilakukan dengan menggunakan alat hitung haemocytometer kemudian diamati dengan mikroskop pada pembesaran 40x. Pertumbuhan phytoplankton diukur dengan penambahan kepadatan yang ditandai dengan bertambahnya jumlah sel dan perubahan warna menjadi menjadi pekat pada media kultur.

3.4.4 Pemanenan

Pemanenan pada kultur pakan alami skala lab dilakukan dengan melepas aerasi yang dipasang pada wadah. Pakan alami yang ditumbukan pada kultur skala lab ini merupakan inokulan bagi kultur pakan alami skala massal. Hasil panen pada kultur pakan alami secara massal dapat langsung diberikan pada wadah pemeliharaan larva.

  1. IV. ASPEK USAHA

4.1 Pemasaran

Kegiatan budidaya pembenihan abalon di BBL Lombok dilakukan secara  intensif. Pada kegiatan ini dihasilkan benih abalon dengan ukuran 2-3 cm untuk didederkan. Lama pemeliharaan dari ukuran benih hingga ukuran siap jual adalah 4-9 bulan. Harga Benih abalon per cm yakni sekitar Rp.1000-2000. Benih abalon yang dibudidayakan di BBL Lombok masih ditujukan untuk kegiatan penelitian dan untuk dikembangkan di daerah lain. Benih abalon yang ada di BBL Lombok dikirim ke daerah seperti Bali.

4.2 Pengadaan Sarana dan Prasarana Produksi

Sarana yang digunakan dalam kegiatan pembenihan abalon adalah lokasi budidaya, wadah, peralatan, induk, sarana produksi pakan alami, serta fasilitas pendukung lainnya. Karakteristik tempat yang akan digunakan dalam pembenihan abalon yakni keberadaan sumber air laut dengan salinitas 30-35%o, pH 7-8, kecerahan >2 m, jauh dari muara sungai, dan bebas dari sumber pencemaran.

Induk kerang abalon Haliotis squamata berasal dari tangkapan nelayan atau pengumpul di Gili Gede, Gerupuk, dan Bali. Induk dipelihara dalam bak yang terkontrol dan dipijahkan secara massal semi alami. Induk dibeli langsung dari pengumpul dengan harga Rp 80.000,- sampai Rp 100.000,- per kg. Harga tersebut tergantung pada ukuran induk.

Pakan untuk induk dan benih abalon berupa  Gracillaria sp. yang diperoleh dari petani rumput laut di wilayah sekotong barat. Rumput laut ini dibeli dengan harga Rp. 50.000/sak dimana satu sak sama dengan 50 Kg rumput laut basah. Sedangkan pakan alami untuk larva yaitu bibit Nitzchia sp berasal dari Bali yang dibeli dengan harga Rp. 60.000/liter bibit.

Bahan kimia seperti pupuk, alkohol dan lain-lain diperoleh dari Mataram. Biaya pengadaan pupuk untuk 1 siklus produksi  sebesar Rp 2.000.000,-. Untuk LPG dibeli di Pasar Pelangan dengan harga Rp 80.000,-/tabung yang satu siklus produksinya membutuhkan 4 buah tabung.

4.3 Analisis Usaha

Biaya investasi merupakan biaya awal yang dikeluuuarkan saat memulai suatu kegiatan usaha dan pada umumnya investasi hanya dikeluarkan sekali dalam jangka waktu yang relatif panjang. Biaya investasi yang dikeluarkan BBL Lombok sekitar Rp. 226.740.000 dengan nilai penyusutan per tahun mencapai Rp. 36.315.000.

Tabel 9. Biaya Investasi dalam satu tahun
Jenis Investasi Spesifikasi Jumlah Umur teknis Satuan Harga/satuan (Rp) Nilai investasi (Rp) Penyusutan
Tanah 500 10 30.000 15.000.000 1.500.000
Bangunan/Hatchery 1 10 Unit 75.000.000 75.000.000 7.500.000
Tandon air laut 1 10 Unit 5.000.000 5.000.000 500.000
Tandon air tawar 1 10 Unit 3.000.000 3.000.000 300.000
R.Pompa dan Genset 1 10 Unit 10.000.000 10.000.000 1.000.000
Instalasi air laut 1 5 Set 1.500.000 1.500.000 300.000
Instalasi air tawar 1 5 Set 1.000.000 1.000.000 200.000
Instalasi aerasi 1 5 Set 500.000 500.000 100.000
Instalasi listrik 1 5 Set 2.000.000 2.000.000 400.000
Bak induk Fiber;1,5 ton 4 5 Unit 4.000.000 16.000.000 3.200.000
Bak larva Fiber;1,5 ton 12 5 Unit 4.000.000 48.000.000 9.600.000
Pompa air laut 4 “ 1 5 Unit 3.150.000 3.150.000 630.000
Pompa air tawar 3/4 “ 2 5 Unit 350.000 700.000 140.000
Genset 10 KVA 1 5 Unit 20.000.000 20.000.000 4.000.000
Hi-Blow 80 watt 4 5 Unit 2.500.000 10.000.000 2.000.000
Rak plankton 1 5 Unit 500.000 500.000 100.000
AC Samsung 1 5 Unit 3.000.000 3.000.000 600.000
Lemari es Sharp 1 5 Unit 1.500.000 1.500.000 300.000
Mikroskop YS 100 1 5 Unit 5.000.000 5.000.000 1.000.000
Kompor gas Rinnai 1 2 Unit 350.000 350.000 175.000
Tabung gas 1 2 Unit 600.000 600.000 300.000
Housing filter 6 2 Unit 200.000 1.200.000 600.000
Lembaran polyvinyl 72 2 Lembar 25.000 1.800.000 900.000
Saringan 200 µm 1 2 Unit 300.000 300.000 150.000
Saringan 80 µm 1 2 Unit 500.000 500.000 250.000
Spatula 10 2 Unit 1.000 10.000 5.000
Selang spiral 1″ 10 2 m 15.000 150.000 75.000
Lampu TL 20 2 Unit 30.000 600.000 300.000
Toples pemijahan 4 2 Unit 20.000 80.000 40.000
Toples plankton 10 2 Unit 30.000 300.000 150.000
Jumlah 1360000
143.101.000 226.740.000 36.315.000

Biaya tetap merupakan biaya yang rutin dikeluarkan perusahaan baik dilaksanakan produksi maupun tidak. Biaya tetap yang dikeluarkan oleh BBL Lombok setiap tahun adalah sebesar Rp. 51.715.000,-. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang dipengaruhi oleh kegiatan produksi atau besarnya kapasitas produksi yang dikerjakan perusahaan. Biaya variabel yang dikeluarkan BBL Lombok setiap tahun adalah sebesar Rp. 45.831.000,-. Sehingga total biaya yang dikeluarkan setiap tahunnya adalah Rp. 97.546.000,-

Tabel 10. Biaya Operasional Hatchery abalon

Biaya Tetap
No Item biaya Usia pakai Harga Jumlah
1 Penyusutan 36.315.000
2 Biaya perawatan 1 Tahun 7.000.000 8.200.000
3 Tenaga kerja 1 Orang 600.000 7.200.000
Jumlah biaya tetap 51.715.000
 

Biaya variable

No Jenis biaya Jumlah Satuan Biaya/satuan (Rp) Total biaya (Rp)
1 Induk 1500 Ekor 10.000 15.000.000
2 Gracillaria sp 1000 Kg 3.000 3.000.000
3 Pupuk 1 Set 10.000.000 10.000.000
4 Aluminium foil 2 Kotak 25.000 50.000
5 Alkohol 10 Liter 30.000 300.000
6 Kaporit 3 Ember 325.000 975.000
7 HCl 4 Jerigen 300.000 1.200.000
8 Sabun cuci 12 Bungkus 3000 36.000
9 Gas 12 Tabung 60.000 720.000
12 Solar 100 Liter 5.500 550.000
13 Listrik 1 Tahun 14.000.000 14.000.000
Jumlah 45.831.000
TOTAL BIAYA OPERASIONAL (biaya tetap + biaya Variabel)  

97.546.000
  • Penerimaan

Dalam 1 tahun yang diperoleh dari hatchery abalon selama 1 tahun (24 siklus). Setiap siklus menghasilkan 3000 ekor benih. Sehingga jumlah benih yang dihasilkan 72.000. Dan Harga jual benih Rp.2000.

Pendapatan           =  Jumlah Produksi x Harga per ekor

= 72.000 x Rp 2000,-

= Rp. 144.000.000.-

  • Keuntungan

Keuntungan = Penerimaan – Biaya Pengeluaran (Biaya Operasional)

Rp. 144.000.000 – Rp. 97.546.000

Rp. 46.454.000,-

  • Break Even Point (BEP)

Analisis Break Even Point dilakukan dalam dua perhitungan, yakni titik impas hasil jual jumlah produksi atau BEP (jumlah produksi) dan titik impas hasil jual harga atau BEP (harga).

BEP Harga      =                            Biaya tetap

1 – Biaya variabel/hasil penjualan

=                                                 Rp51.571.000

1 – (Rp 45.831.000/Rp144.000.000 )

=    Rp 75.647.342/tahun

BEP Produksi =                            Biaya tetap

Harga jual – Biaya variabel/jumlah produksi

=                            Rp 51.571.000

Rp 2.000 – (Rp 45.831.000/72.000 ekor)

=     37823 ekor/tahun

  • R/C Ratio

R/C Ratio     = Penerimaan / Biaya Pengeluaran

= Rp. 144.000.000 / Rp. 97.546.000

= 1.47

Hal ini menunjukkan bahwa setiap pengeluaran Rp. 1,00 akan diperoleh penerimaan sebesar Rp. 1,47.

  • Return Of Investment

Return Of Investment = (Total Pendapatan / Total Pengeluaran) x 100 %

= (Rp. 144.000.000 / Rp. 97.546.000,-) x 100 %

= 147 %

Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini akan menghasilkan pendapatan mencapai 147 % dari total biaya yang dikeluarkan.

  • Payback Period

Payback Period = (Investasi / Keuntungan) x 1 tahun

(Rp. 226.740.000,- / Rp. 46.454.000,-) x 1 tahun

4.88 tahun

Hal ini menunjukkan bahwa masa pengembalian modal yang dibutuhkan BBL Lombok adalah 4.88 tahun.

  • Harga Pokok Produksi (HPP)

Harga Pokok Produksi = Total Biaya Produksi / Jumlah Produksi

= Rp. 97.546.000,- / 72000

= Rp. 1354,80



About these ads

Posted on 04/12/2010, in Sains. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: