Arsip Blog

PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Praktikum ke-12

m. a. Dasar-dasar Mikrobiologi Akuatik

  PENGARUH BAHAN ANTIMIKROBA TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Oleh :

Gia Marta Novia

C14070034

 TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

 

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Bakteri juga memiliki kebutuhan dasar yang sama meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh. Bakteri merupakan organisme yang bersifat prokariotik dengan inti tidak berselaput. Dalam lingkungan, bakteri ini berperan sangat penting dalam menguraikan zat-zat organik.

Bakteri dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu faktor abiotik meliputi kimia dan fisika serta faktor biotik yang berhubungan dengan makhluk hidup lain. Faktor fisika mencakup suhu, salinitas, tekanan osmotik, pengeringan, dan lain-lain. Sedangkan Faktor kimia mencakup pH, DO, amonia, bahkan antimikroba juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bakteri.

Bahan antimikroba sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup bakteri. Akan tetapi tidak semua bahan antimikroba berpengaruh terlalu kuat terhadap bakteri. Hal ini dipengaruhi oleh jenis bakteri dan bahan antimikroba itu sendiri. Bahan antimikroba dapat menghambat perkembangbiakan bakteri (bakteriostatik), bahkan ada yang sanggup membunuhnya (bakteriosida)., dengan tahapan sebagai berikut, yaitu merusak membran, mendenaturasi protein, menghambat pembentukan dinding sel, dan mengganggu sintesis protein. Pada praktikum kali ini digunakan berbagai macam bahan antimikroba seperti formalin, alkohol, antibiotik, dan ekstrak pace-pace.

1.2. Tujuan

Tujuan dari paktikum ini adalah mengamati pengaruh bahan antimikroba terhadap viabilitas bakteri.

 II. METODE KERJA

 2.1  Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilakukan pada hari Rabu, 27 Mei 2009 pukul 07.00 – 10.00 WIB di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Sedangkan kegiatan pengamatannya dilakukan pada hari Kamis, 28 Mei 2009 pukul 10.00 WIB di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2  Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah jarum ose, cawan petri, rak tabung reaksi, tabung Eppendorf, inkubator, pinset, pipet steril, batang penyebar, botol semprot, pembakar Bunsen, dan korek api.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah biakan cair bakteri Aeromonas sp. dan Bacillus sp., larutan fisiologis, larutan antibiotik (tetracyline, chloram-fenico dan erythromycine), larutan alkohol, larutan ekstrak pace-pace, larutan bawang putih, larutan daun pepaya, larutan formalin, medium TSA, kertas saring steril, dan alkohol 70% untuk sterilisasi.

2.3  Prosedur Kerja

Pertama-tama diambil 0,1 ml suspensi bakteri, lalu diteteskan pada media TSA, kemudian disebar secara merata dengan batang penyebar (media TSA untuk satu macam bakteri). Selanjutnya pinset dibakar sebentar di atas nyala api, lalu diambil kertas saring dengan pinset satu-persatu. Setelah itu dicelupkan kertas saring I ke dalam larutan fisiologis dan diletakkan di atas permukaan media TSA yang telah disebari biakan bakteri. Kemudian dicelupkan kertas saring II ke dalam larutan antibiotik dan diletakkan pada cawan petri yang sama dengan jarak tertentu, hal yang sama dilakukan untuk jenis antibakteri yang lain. Biakan bakteri dalam cawan petri lalu diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam. Setelah 24 jam, dilakukan pengamatan pertumbuhan bakteri yang terjadi dan diukur diameter daerah bening yang timbul.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Zona Hambat Bahan Anti Mikroba

Kel.

Bakteri

Bahan Anti Mikroba

Fitofarmaka (bawang putih)

Antibiotik (tetra cycline)

Formalin

Alkohol

Larutan fisiologis

1. Aeromonas hydrophila 0.8 cm 2.1 cm 0.8 cm 1 cm -
Bacillus sp 0.9 cm 1.1 cm 0.6 cm 1 cm -
4. Aeromonas hydrophila 0.5 cm 1.5 cm 0.5 cm 0.8 cm -
Bacillus sp 0.8 cm 1.2 cm 2.3 cm 0.6 cm -
7. Aeromonas hydrophila 0.05 cm 0.3 cm 0.2 cm 0.15 cm 0.3 cm
Bacillus sp 0.1 cm 0.7 cm 0.2 cm 0.2 cm 0.1 cm
10. Aeromonas hydrophila 0.2 cm 0.8 cm 0.3 cm 0.2 cm 0.4 cm
Bacillus sp 0.1 cm 0.8 cm 0.5 cm 0.3 cm 0.3 cm

Tabel 2. Hasil Pengamatan Zona Hambat Bahan Anti Mikroba

Kel.

Bakteri

Bahan Anti Mikroba

Fitofarmaka (pace-pace)

Antibiotik (erythro-mycine)

Formalin

Alkohol

Larutan Fisiologis

2. Aeromonas hydrophila 1.1 cm 0.6 cm 0.8 cm 1.2 cm 0.5 cm
Bacillus sp 1 cm 2 cm 0.9 cm 0.8 cm -
5. Aeromonas hydrophila 0.1 cm 0.2 cm - - 0.2 cm
Bacillus sp 0.1 cm 2 cm 0.1 cm 0.3 cm 0.1 cm
11. Aeromonas hydrophila 0.1 cm 0.2 cm 0.1 cm 0.4 cm -
Bacillus sp 0.2 cm 1.6 cm 0.1 cm - -

 

Tabel 3. Hasil Pengamatan Zona Hambat Bahan Anti Mikroba

Kel.

Bakteri

Bahan Anti Mikroba

Fitofarmaka (pepaya)

Antibiotik (chloram-fenicol)

Formalin

Alkohol

Larutan Fisiologis

3. Aeromonas hydrophila 0.5 cm 0.9 cm 0.8 cm 0.6 cm 0.85 cm
Bacillus sp 1.2 cm 1.6 cm 0.9 cm 1.35 cm 0.9
6. Aeromonas hydrophila 0.1 cm 0.6 cm 0.6 cm 0.2 cm -
Bacillus sp 0.7 cm 1.6 cm 1.1 cm 0.2 cm 0.6 cm
9. Aeromonas hydrophila 0.7 cm - 0.4 cm 0.1 cm 0.1 cm
Bacillus sp 0.3 cm 2.5 cm 0.4 cm 1 cm 0.5 cm
12. Aeromonas hydrophila 0.2 cm 1 cm 0.7 cm 0.2 cm 0.8 cm
Bacillus sp 0.2 cm 1.7 cm 0.2 cm 0.25 cm 0.2 cm

Tabel 4. Hasil Pengamatan Zona Hambat Bahan Anti Mikroba

Kel. Bakteri Bahan anti mikroba
Fitofarmaka (bawang putih) Antibiotik (erytro-mycin) Formalin Alkohol Larutan fisiologis
8. Aeromonas hydrophila 0.3 cm 2 cm 0.3 cm 0.3 cm -
Bacillus sp - - - - -

3.2. Pembahasan

            Praktikum kali ini adalah ingin mencoba bahan antibiotik mana yang paling kuat pengaruhnya terhadap viabilitas bakteri. Dan kali ini bahan antimikroba yang digunakan adalah formalin, alkohol, larutan bawang putih, antibiotik, larutan pepaya, dan ekstrak pace-pace dengan larutan fisiologis sebagai kontrol.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa bahan antimikroba yang diparaktikumkan mampu menghasilkan zona bening di sekitarnya. Hal ini berarti bahan-bahan ini memiliki zat anti bakteri. Zat anti bakteri ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri di sekitarnya. Sistem kerja suatu senyawa antibiotik bisa terjadi dengan beberapa macam cara. Beberapa macam cara yang mungkin akan berlangsung yaitu:

  1. Menghambat pembentukan dinding sel (penicillin, bacitracin),
  2. Mengganggu sintesis asam nukleat (actinomycin D, griseofulvin
  3. Menghambat sintesis protein (chloramphenicol, streptomycin, erythromycin, tetracycline),
  4. Merusak fungsi membran plasma (colistin, polymyxins).

Dalam pengamatan didapatkan bahwa diameter zona bening yang dihasilkan oleh larutan-larutan ini berbeda-beda. Perbedaan ini juga dapat dilihat pada pengujian terhadap jenis bakteri yang berbeda. Hal ini karena kemampuan zat antibakteri akan berbeda untuk setiap bahan yang berbeda. Menurut (Pelczar,2006) senyawa anti bakteri memiliki kemampuan yang berbeda untuk menghambat pertumbuhan bakteri tergantung jenis senyawa dan jenis bakterinya.

Alkohol diatas 40% merupakan bahan yang efektif membunuh bakteri. Menurut Harrington dan Weikel (1957) dalam Firmansyah (2005) pada perlakuan kering, konsentrasi alkohol 60 – 70 % paling efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Namun, dalam perlakuan basah konsentrasi ini juga efektif.

Zat antibakterial adalah zat yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui penghambatan pertumbuhan bakteri. Senyawa anti bakteri mengandung zat kimia khusus yang dapat berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri.

Formalin merupakan senyawa kimia yang sering digunakan sebagai bahan pengawet. Sebagai bahan pengawet zat ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. Oleh karena itulah larutan ini mampu mengahambat pertumbuhan bakteri uji dan bahkan zona bening yang dihasilkannya paling besar. Menurut Olson  (1999) dalam Fithratyrrah (2005) formalin dapat digunakan untuk mensterilkan peralatan kedokteran, desinfektan untuk pembersih lantai, kapal, gudang, dan pakaian, sebagai germisida dan fungisida pada tanaman dan sayuran. Bahan ini juga efektif sebagai pembasmi lalat dan serangga lainnya serta digunakan untuk mengawetkan spesimen biologi, termasuk mayat dan kulit.

Dalam paraktikum ini diketahui pula adanya bahan fitofarmaka yaitu ekstrak pace-pace (Leucas sp.) dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini sesuai dengan pernyataan  Hasan and Tahir (2004) dalam Suparman (2005) yang menyatakan bahwa pace-pace mengandung flavonoid yang memiliki kemampuan sebagai antibakteri dan antifungal. Bawang putih adalah nama tanaman dari genus Allium, bawang mentah penuh dengan senyawa sulfur termasuk zat kimia yang disebut allin, allin adalah prekursor pembentuk rasa dan aroma yang bersifat non volatil (Agustian, 2007). Bawang putih mampu melawan infeksi oleh bakteri, virus, dan mikroorganisme yang lain, hal ini karena bawang putih memilki atau mengandung zat aktif yaitu : ajene, allicin, allyl, methyl thiosulfinate, dan allyl thiosulfinate. Kemudian bahan fitofarmaka lainnya yaitu daun pepaya yang mana mengandung tocophenol, flavonoid, dan enzim papain yang diduga memilki daya antimikroba, serta alkaloid carpain yang berfungsi sebagai antibakteri.

Menurut Lunggana (2002) larutan fisiologis merupakan garam NaCl yang mempunyai keseimbangan kepekatan larutan dengan kepekatan cairan tubuh (isotonik). Pemberian larutan fisiologis pada mikroba tidak akan membentuk zona bening karena bahan ini tidak berfungsi sebagai antimikroba.

Dalam praktikum larutan fisiologis dapat membentuk zona bening, hal ini tidak sesuai dengan tinpus yang didapat. Adanya kesalahan yang dilakukan oleh praktikan ataupun lainnya yang dapat menyebabkan hal ini terjadi. Kemudian diameter zona bening yang didapat yang paling besar yaitu pada antibiotik. Menunjukan yang paling efektif sebagai zat anti bakteri.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

            Pada praktikum kali ini digunakan larutan-larutan uji antimikroba untuk mengetahui tingkat viabilitas bakteri. Indikasi yang digunakan adalah luas diameter zona bening pada cawan. Semakin besar zona bening yang terbentuk dalam cawan petri, maka semakin baik pula kemampuan bahan tersebut sebagai antimikroba.

Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa formalin adalah larutan antimikroba yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Hal ini dikarenakan zona bening pada larutan formalin paling luas dibandingkan luas zona larutan antimikroba yang lain. Jadi secara keseluruhan praktikum kali ini berhasil karena uji terhadap tingkat viabilitas bakteri dengan antimikroba sebagai pengaruhnya berjalan sesuai prosedur.

4.2. Saran

Pada praktikum selanjutnya diharapkan praktikan lebih berhati-hati dalam praktikum. Tidak terlalu banyak mengobrol ataupun hal lain yang menyebabkanterjadinya kontaminan.

DAFTAR PUSTAKA

Fithratyrrah. 2005. Tinjauan Pangan Mi Basah yang Mengandung Formalin Setelah Mengalami Tahap Persiapan atau Pemasakan. Skripsi. Jurusan    Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian. Institut             Pertanian Bogor.

Lay, B. W. 1992. Mikrobiologi. Jakarta: Rajawali Pers.

Lunggana, I. 2002. Minuman Isontonik Pengganti Energi. Jakarta: Republika         Online. [http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=2&id            =100473&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=204] (1 Juni 2009).

Pelczar, M. J. dan E. C. S. Chan. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI      Press.

Suparman, M. A. 2005. Penggunaaan Ekstrak Daun Pace-pace Leucas sp. untuk Pengobatan Penyakit Mikotik pada Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: