Arsip Blog

PENGARUH SUHU DAN SALINITAS TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Praktikum ke-11

m. a. Dasar-dasar Mikrobiologi Akuatik

PENGARUH SUHU DAN SALINITAS

TERHADAP VIABILITAS BAKTERI

Oleh :

Gia Marta Novia

C14070034

TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

I. PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Bakteri juga memiliki kebutuhan dasar yang sama meliputi air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh. Bakteri merupakan organisme yang bersifat prokariotik dengan inti tidak berselaput. Dalam lingkungan, bakteri ini berperan sangat penting dalam menguraikan zat-zat organik.

Bakteri dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu faktor abiotik meliputi kimia dan fisika serta faktor biotik yang berhubungan dengan makhluk hidup lain. Faktor kimia mencakup pH, DO, amonia, dan lain-lain. Sedangkan faktor fisika mencakup suhu, salinitas, tekanan osmotik, pengeringan, dan lain-lain.

Bakteri mempunyai kisaran tertentu dalam suhu. Dalam pertumbuhannya, suhu bakteri terbagi 3 macam, yaitu minimum, optimum, dan maksimum. Bakteri akan tumbuh dengan baik pada suhu optimum.

Selain suhu, bakteri juga dipengaruhi oleh salinitas atau tekanan osmotik. Tekanan osmotik terbagi 3, yaitu hipotonis, isotonis, dan hipertonis. bakteri akan tumbuh dengan baik atau akan hidup pada keadaan isotonis, karena pada keadaan hipotnis ataupun hipertonis sel bakteri tidak akan mampu menahannya lalu kemudian pecah atau mati kehabisan cairan. Oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk mengetahui pengaruh salinitas dan suhu terhadap viabilitas bakteri.

1.2.  Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas dan suhu terhadap viabilitas atau kelangsungan hidup bakteri.

II. METODE KERJA

 2.1. Waktu dan Tempat

            Praktikum yang berjudul Pengaruh Suhu dan Salinitas Terhadap Viabilitas Bakteri ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 20 Mei 2009 pada pukul 07.00 -10.00 WIB, serta pengamatan dilakukan pada hari Kamis tanggal 21 Mei 2009 di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2. Alat dan Bahan

            Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah cawan petri, jarum ose, tabung Eppendorf, inkubator, korek api, pembakar Bunsen, dan tissue.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah media TSA dengan berbagai macam konsentrasi NaCl (0 %, 1,5%, 3%, 10%), dan biakan cair bakteri Aeromonas sp dan Bacillus sp berumur 24 jam.

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Pengaruh Suhu Terhadap Viabilitas Bakteri

Masing-masing biakan bakteri digores pada media TSA (setiap petri untuk 2 jenis bakteri dan 1 macam suhu hasil inkubasi ). Sebelumnya bakteri yang digunakan telah diinkubasi pada temperatur kamar, lemari es, suhu 370C dan 700C selama 30 menit  Setelah itu, biakan hasil goresan diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam. Proses tersebut harus dilakukan secara aseptik yaitu dengan menyemprotkan alkohol 70% pada daerah sekitar api bunsen dan tangan., serta pemindahan bakteri tersebut jangan terlalu jauh dengan api bunsen. Hal ini untuk menghindari terjadinya kontaminan. Kemudian setelah inkubasi pertumbuhan dari masing-masing biakan dicatat.

 2.3.2 Pengaruh Salinitas Terhadap Viabilitas Bakteri

Agar cawan yang sudah padat dibalik dan dibuat garis dengan spidol pada pertengahan petri sehingga menjadi 2 sektor. Kemudian dibuat piaraan goresan dari masing-masing bakteri pada tiap konsentrasi NaCl pada cawan petri. Setelah itu, dilakukan diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

1 Hasil

Tabel 1. Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp.

No.

Perlakuan suhu

Bakteri

Aeromonas hydrphila

Bacillus sp.

1.

Suhu kamar

+++

+++

2.

Suhu kulkas

++

++

3.

Suhu 37 0C

+++

++

4.

Suhu 700C

-

+

Keterangan      :+++    : tumbuh luar biasa

++       : tumbuh baik

+       : tumbuh sedikit

-             : tidak tumbuh

Tabel 2. Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan Bakteri Aeromonas hydrophila dan Bacillus sp.

No.

Perlakuan salinitas

Bakteri

Aeromonas hydrphila

Bacillus sp.

1.

Salinitas 0%

+++

+++

2.

Salinitas 1,5%

++

++

3.

Salinitas 3%

+

+

4.

Salinitas 10%

-

-

Keterangan      :+++    : tumbuh luar biasa

++       : tumbuh baik

+       : tumbuh sedikit

-             : tidak tumbuh

3.2  Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan praktikan pada praktikum ini, dapat diketahui bahwa bakteri Aeromonas sp. masih dapat tumbuh pada perlakuan suhu 37oC, tetapi tak tumbuh pada perlakuan suhu 70oC. Sedangkan untuk bakteri Baccilus sp. masih dapat tumbuh pada perlakuan suhu hingga 70oC. Untuk perlakuan salinitas diketahui bahwa bakteri Aeromonas sp. tidak mampu hidup pada salinitas 10%. Perlakuan salinitas yang lain bakteri Aeromonas sp. maupun bakteri Baccilus sp. dapat hidup dan tumbuh pada perlakuan salinitas 0%, 1,5 %, 3% dan 10% (untuk Bacillus sp.). Pertumbuhan banyaknya bakteri yang tumbuh di tandai dengan banyakknya tanda plus (+) dari yang tumbuh luar biasa sampai tumbuh sedikit.

Tidak tumbuhnya bakteri pada suhu tertentu ataupun pada salinitas tertentu menunjukkan bahwa mikroorganisme termasuk di dalamnya bakteri mempunyai kisaran faktor lingkungan spesifik yang mendukung kehidupannya. Perbedaan tingkat pertumbuhan pada perlakuan yang berbeda juga menunjukkan bahwa bakteri memiliki kisaran faktor lingkungan yang optimal untuk keperluan pertumbuhannya. Menurut Pelczar (2006) bakteri memerlukan kisaran suhu, salinitas, dan pH tertentu untuk suatu pertumbuhan yang optimal.

Apabila dilihat dari tingkat pertumbuhannya, diketahui bahwa bakteri Aeromonas sp. tumbuh optimal  pada suhu kamar, suhu 37oC dan tumbuh luar biasa pada tingkat salinitas 0%. Hal ini karena bakteri Aeromonas sp. merupakan bakteri yang hidup pada suhu sedang dan perairan tawar hingga payau. Fakta mengenai hal ini dapat dilihat dari banyaknya ikan air tawar ataupun payau yang terserang bakteri ini. Menurut Livianty dan Afrianto (2001) dalam Kuswardani, (2006), bakteri Aeromonas sp. merupakan salah satu spesies bakteri yang hidup dilingkungan perairan tawar dan perairan payau. Perairan yang mengandung bahan organik tinggi dan bersuhu 15 – 30oC serta tingkat pH 5,5 – 9 menjadi tempat yang ideal bagi perkembangan dan pertumbuhan bakteri Aeromonas sp.

Secara morfologis Aeromonas sp. berbentuk batang pendek dengan ukuran 1,0 – 1,5 µm dan lebar 15,7 – 15,8 µm, termasuk bakteri gram negatif, bersifat motil dan bergerak dengan satu polar flagela, oksidatif fermentatif dan termasuk bakteri yang fakultatif aerobik (Kabata, 1985 dalam Kuswardani, 2006)

Berdasarkan hasil perlakuan suhu dan salinitas yang telah dicobakan pada bakteri Bacillus sp. dapat diketahui bahwa bakteri ini dapat tumbuh hingga suhu 70oC, dan tumbuh luar biasa pada salinitas 0%. Kemampuan Baccilus sp. untuk tumbuh pada suhu 70oC karena sifat dari bakteri ini, yaitu termasuk dalam bakteri termofil. Sedangkan tidak tumbuhnya bakteri pada salinitas tinggi dikarenakan bakteri ini umumnya hidup di dalam tanah yang pada umumnya bersalinitas rendah.

Menurut Pelczar dan Chan (2006), Bacillus sp. merupakan bakteri berbentuk batang 0,3-2,2 µmx1,27-7,0 µm, sebagian besar motil, flagellum khas lateral, membentuk endospora, respirasi sejati, fermentasi sejati atau kedua-duanya yaitu respirasi dan fermentasi, anaerobik fakultatif dan aerobik sejati umumnya dijumpai di dalam tanah. Sedangkan Kamelia (2000) menyatakan bahwa bakteri Baccilus sp. merupakan bakteri yang mampu bertahan hidup pada kondisi ekstrem yaitu suhu di atas 55oC.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

 4.1 Kesimpulan

            Bakteri Aeromonas sp. maupun bakteri Bacillus sp. tidak mampu tumbuh pada kadar salinitas tinggi. Bakteri Bacillus sp. merupakan bakteri yang mampu tumbuh pada suhu tinggi (termofilik), sedangkan Aeromonas sp. merupakan bakteri mesofilik. Kegiatan praktikum ini berhasil dimana praktikan dapat mengetahui pengaruh dan kisaran yang baik pada suhu dan salinitas untuk bakteri Aeromonas sp. dan Bacillus sp..

4.2 Saran

            Untuk praktikum mengenai uji viabilitas bakteri sebaiknya ditambah perlakuan dengan memberikan pH berbeda pada setiap bakteri. Hal ini karena pH juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri.

DAFTAR PUSTAKA

 Kamelia, R. 2000. Isolasi dan Karakterisasi Protease Intraselular Termostabil dari Bakteri Bacillus stearothermophilus RP1. Bandung : ITB.

Kuswardani, Yusnita. 2006. Pengaruh Pemberian Resin Lebah Terhadap Gambaran Darah Maskoki (Carassius auratus) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila. Skripsi. Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. IPB.

Pelczar, M. J. Dan Chan, E. C. S. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia. Press: Jakarta.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: