PENANGANAN WADAH DAN MEDIA

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Wadah dalam budidaya merupakan bagian yang sangat penting dan memerlukan penanganan khusus sebelum digunakan. Banyak berbagai wadah budidaya yang digunakan sepeti kolam, tambak, akuarium, maupun bak-bak yang terbuat dari beton atau fiber. Wadah yang digunakan dalam kegiatan budidaya tidak lepas dari organisme penyebab penyakit yang biasa berasal dari kegiatan budidaya sebelumnya.

Air merupakan media tempat ikan hidup untuk tumbuh dan berkembang dan melakukan aktifitas hidupnya. Air yang digunakan dapat berasal dari sungai ataupun laut. Sama halnya seperti wadah, media pun mempunyai potensi membawa patogen bagi kesehatan ikan.

Perlu adanya perlakuan dalam persiapan wadah dan media sebelum digunakan untuk menghindari masuknya patogen dini. Oleh karena itu, paraktikum persiapan wadah dan media ini dilakukan agar praktikan dapat melakukan antisipasi masuknya patogen dalam kegiatan budidaya. Yaitu pada persiapan wadah menggunakan fitofarmaka sebagai desinfektan dan mengaplikasikan teknik penanganan media yang benar.

1.2. Tujuan

Praktikum ini bertujuan agar paraktikan dapat mengaplikasikan bahan kimia maupun fitofarmaka sebagai desinfektan dalam penaganan wadah budidaya serta teknik penanganan media sebelum digunakan sebagai media hidup bagi ikan.


II. METODE KERJA

2.1. Waktu dan Tempat

Praktikum yang berjudul Penanganan Wadah dan Media ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 23 Februari 2010 pada pukul 15.00 -18.00 WIB, serta pengamatan dilakukan pada hari Rabu tanggal 23 Februari 2010 pada pukul 12.00 s.d selesai di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah toples, jarum ose, pipet serologis, inkubator, korek api, pembakar Bunsen, dan tissue.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah media TSA (Triptic Soy Agar), media GYA (Glucose Yeast Agar), klorin, PK (KMnO4), paci-paci dan iodine.

2.3 Prosedur Kerja

2.3.1 Wadah

Hal pertama yang dilakukan bahan yang digunakan dilarutkan dengan dosis yang telah ditetapkan (contoh ; iodine dengan dosis 200 ppm). Kemudian toples yang digunakan sebelumnya telah dicuci dan dibersihkan dengan air supaya tidak licin. Lalu dilakukan perendaman dengan bahan masing-masing sesuai kelompok yang telah ditentukan dengan perlakuan 30 menit dan 60 menit.

Setelah itu, rendaman tersebut dibuang. Selanjutnya ose diambil yang akan dioleskan pada dinding toples bagian dalam dan digoerskan pada agar TSA dan GYA  cawan. Kemudian inkubasi selama 24 jam. Kegiatan akhir cawan diamati untukmengetahui ada tidaknya koloni yang terbentuk.

2.3.2 Media

Kegiatan pertama dilakukan adalah bahan yang digunakan dilarutkan dengan dosis yang telah ditetapkan (contoh ; iodine dengan dosis 200 ppm). Kemudian toples yang digunakan sebelumnya telah dicuci dan dibersihkan dengan air supaya tidak licin. Lalu dilakukan perendaman dengan bahan masing-masing sesuai kelompok yang telah ditentukan dengan perlakuan 30 menit dan 60 menit.

Selanjutnya, ose diambil yang akan dioleskan/dicelupkan pada air yang telah dicampur bahan di dalam toples dan digoerskan pada agar TSA dan GYA  cawan. Kemudian inkubasi selama 24 jam. Kegiatan akhir cawan diamati untukmengetahui ada tidaknya koloni yang terbentuk.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 1.

Kelompok Perlakuan Waktu 

Pengamatan

Ada tidaknya koloni
TSA GYA
Wadah Air Wadah Air
1 Paci-paci  200 ppm 30 Menit 

60 Menit

++

++ 

++

– 

2 PK 10 ppm 30 Menit 

60 Menit

– 

– 

3 PK 20 ppm 30 Menit 

60 Menit

– 

– 

+

– 

– 

4 Iodine 200 ppm 30 Menit 

60 Menit

– 

– 

– 

– 

5 Iodine 300 ppm 30 Menit 

60 Menit

– 

– 

– 

6 Klorin 100 ppm 30 Menit 

60 Menit

– 

– 

+

– 

7 Klorin 30 ppm 30 Menit 

60 Menit

++ 

+

++ 

+

– 

– 

Keterangan      : –         =  Tidak terdapat kontaminan

+        =  Sedikit yang tumbuh bakteri

++      =  Banyak tumbuh baketri

+++   = Banyak sekali bakteri tumbuh

3.2 Pembahasan

Praktikum mengenai penanganan wadah dan media ini menggunakan bahan-bahan kimia dan fitofarmaka. Yaitu iodine, paci-paci, KMnO4, dan klorin. Kegiatan ini dimaksud untuk mengetahui keefektifan sebagai desinfektan dalam penaganan media dan wadah. Berdasarkan hasil yang didapat bahan iodin yang dilarutkan 200 ppm paling baik dan efektif membunuh bakteri dan cendawan pada cawan TSA (Triptic Soy Agar) dan GYA (Glucose Yeast Agar). Diketahui Iodin merupakan unsur padatan tidak mengandung logam. Akan tetapi iodin bersifat iritatif dan lebih toksik bila masuk ke pembuluh darah, iodin mempunyai sifat antiseptik (membunuh kuman) baik bakteri gram positif maupun negatif (Siswandono, 2004 dalam Haris, 2009).

Paci-paci merupakan salah satu tanaman obat yang biasa digunakan untuk membunuh organisme penyebab penyakit. Kelebihan dari paci-paci yaitu daun mengandung minyak atsiri yang berfungsi sebagai anti bakteri yaitu terdapat senyawa fenol yang dapat mendenaturasi protein dari bakteri. Selain itu akar paci-paci mengandung Saponin, flavonoida dan tanin. Senyawa-senyawa tersebut merupakan anti bakterial dan antiseptik (Hasyim, 2003 dalam Abdullah, 2008).  Tetapi hasil yang didapat dalam praktikum ini tidak sesuai dengan timpus. Hasil menunjukan bahwa daun paci-paci kurang efektif membunuh bakteri ditandai dengan ditujukannya hasil positif pada tabel di atas. Ketidak efektifan dalam membunuh bakteri juga ditujukan pada bahan yang menggunakan klorin 30 ppm.

Klorin digunakan pertama kali oleh negara Amerika sebagai desinfektan untuk pengolahan limbah (Cheremisinoff et al., 1981 dalam Harianja, 2005). Anonim, 2009 mengemukaan bahwa Klorin dan kloramin merupakan bahan kimia yang biasa digunakan sebagai pembunuh kuman (disinfektan) di perusahan-perusahan air minum seperti PAM atau PDAM. Klorin (Cl2) merupakan gas berwarna kuning kehijauan dengan bau lumayan menyengat. Bau ini bisa dikenali seperti bau air kolam renang yang biasanya secara intensif diberi perlakuan klorinasi dengan kaporit. Sedangkan kloramin merupakan senyawa klorin-amonia (NH4Cl).

Perlakuan pada bahan PK (Kalium Permanganat) mendapatkan hasil yang cukup baik sebagai desinfektan pembunuh kuman. Hanya sedikit terdapat kontaminan. Kalium permanganat (PK) merupakan oksidator kuat yang sering digunakan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit  dan infestasi bakteri terutama pada ikan-ikan dalam kolam.  Meskipun demikian untuk pengobatan ikan-ikan akuarium tidak sepenuhnya dianjurkan karena diketahui banyak spesies ikan hias yang sensitif terhadap bahan kimia ini.  Bahan ini diketahui efektif mencegah flukes, tricodina, ulcer, dan infeksi jamur.  Meskipun demikian,  penggunaanya perlu dilakukan dengan hati-hati karena tingkat keracunannya hanya sedikit lebih tinggi saja dari tingkat terapinya. Oleh karena itu,  harus dilakukan dengan dosis yang tepat. Tingkat keracunan PK secara umum akan meningkat pada lingkungan akuarium yang alkalin (Anonim2, 2004).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Kegiatan praktikum ini berhasil dimana praktikan dapat mengaplikasikan bahan kimia maupun fitofarmaka sebagai desinfektan dalam penanganan wadah dan media budidaya. Kemudian diketahui berdasarkan dari hasil yang didapat bahan iodin 200 ppm yang paling efektif membunuh bakteri dan cendawan.

4.2 Saran

Praktikum selanjutnya sebaiknya menggunakan bahan desinfektan dengan dosis yang beragam, agar tingkat keefektifan dapat lebih diketahui. Kemudian bahan fitofarmaka yang digunakan lebih beragam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,Yusuf. 2008. Efektivitas Ekstrak Daun Paci-Paci Leucas lavandulifolia untuk Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Penyakit MAS Motile     Aeromonas Septicemia Ditinjau dari Patologi dan Haematologi Ikan Lele     Dumbo Clarias sp. Skripsi. Program Studi Teknologi dan Manajemen         Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu       Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Anonim, 2009. Tanaman Obat. O-Fish [26 Februari 2010]

Anonim2, 2004. PK [26 Februari 2010]

Harianja, Doharni Wina. 2005. Bio-Desinfektan dari Zat Aktif Pemphis acidula sebagai Alternatif Pengganti Klorin dalam Industri Pengolahan Udang. Skripsi. Program Studi Teknologi dan Manajemen        Akuakultur, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu          Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Haris, Rif Atiningtyas. 2009. Efektivitas Penggunaan Iodin 10%, Iodin 70 %, Iodin 80%, dan Nacl Dalam Percepatan Proses Penyembuhan Luka Pada Punggung Tikus Jantan Sprague Dawley. Skripsi. Fakultas Ilmu Kesehatan

 

About Gya's Blog

"Gya" Mahasiswi IPB (2007)...Mayor Teknologi dan Management Perikanan Budidaya...

Posted on 06/12/2010, in Sains. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. salam kenal ^^
    penelitian nya tentang pa teh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: